#5BukudalamHidupku Tanah Perempuan dan Eksplorasi Tanpa Batas

Buku Tanah Perempuan Karya Helvy Tiana Rosa

Buku Tanah Perempuan Karya Helvy Tiana Rosa


Ini adalah buku drama yang saya dapatkan langsung dari penulisnya, pertama kali saya membaca drama ini saat SMA, di majalah Sastra Horison tahun 2005 (entah Horison terbitan kapan) tapi saya begitu tertarik dan sempat beberapa kali membacanya. Hingga akhirnya saya masuk kuliah dan bertemu dengan penulisnya langsung.

Saya sudah membaca Moliere sejak SMA, kemudian mengenal sedikit mengenai Chekov dan Motingo Busye pada saat yang sama; namun ketika masuk kuliah saya masuk ke dalam sebuah ranah pengetahuan yang baru. Dan salah satunya adalah lewat buku ini, buku drama yang saya dapatkan pertama kali langsung dari penulisnya Tanah Perempuan karya Helvy Tiana Rosa.

Saat itu semester 4 dan ada kuliah kajian Drama, salah satu teman saya mengambil naskah Tanah Perempuan karya Helvy Tiana Rosa yang menjadi kajiannya, sayapun tertarik untuk melihat hasil kajian teori dan praktisnya; sebuah pandangan halus tentang bagaimana naskah bisa dipentaskan, saat mata kuliah tersebut saya mengkaji naskah jagoan Arifin C. Noer Kapai-Kapai.

Saya akui dengan berat hati bahwa kajian naskah Tanah Perempuan yang dibuat oleh kawan saya tersebut sangat tidak memuaskan. Konsep pemanggungannya tidak kuat, dan penalaran naratif yang sama sekali tidak menarik . Akhirnya saya iseng membaca kembali sebuah drama sembilan babak yang diterbitkan oleh penerbit LaPena Aceh tersebut.

Alhasil jodohpun berlanjut, gayungpun bersambut, pada saat itu saya dan Teater Bengkel Sastra berniat untuk mementaskan naskah Sampek Engtay milik N. Riantiarno; semuanyapun sudah dipersiapkan, namun apa mau dikata semangat akhirnya memudar juga karena budgeting yang begitu tinggi, ditambah lagi kami tidak memiliki ikatan Essene yang jelas terhadap naskah ini. Akhirnya kami banting stir dan kembali mencari saripati kekuatan kami ke beberapa naskah.

Naskah Tanah Perempuan tadinya jauh dari pilihan saya, di dalam benak saya “Hari gini main tragedi?” Kamipun beranjak dari satu naskah ke naskah lain, dan buku Tanah Perempuan yang saya pinjam beberapa bulan lalu ketika Kajian Drama masih nyaman nangkring di laci buku kamar saya. Naskah demi naskah kami jelajahi dari Moliere, Brecht, sampai Artur S. Nalan semua tak luput dari keterbacaan saya.

Sampai pada satu sore di latihan rutin HTR (Helvy Tiana Rosa) menyarankan bahwa kami bisa mementaskan naskah Tanah Perempuan untuk memperingati lima tahun tragedi Tsunami di Aceh, dan memang naskah Tanah Perempuan ini bercerita mengenai bangkitnya seorang perempuan Aceh setelah dilindas berbagai kesulitan hidup; dari larinya dua adiknya karena takut diculik GAM, kematian Ayahnya yang ditembak orang misterius, suaminya yang hilang diculik oleh entah siapa, sampai terpisahnya dia (Safia Cut Keumala—tokoh sentral) dengan Ibu dan anaknya karena Tsunami.

Satu tahun saya berlatih mempersiapkan pertunjukan yang akan diadakan di Bandung, Jakarta, dan Aceh ini. Banyak pemain yang keluar masuk, banyak affair yang berhenti atau berlanjut, dan banyak suka duka yang tergambar. Bahkan karena proses inilah kemudian buku Tanah Perempuan dicetak ulang.

Buku naskah drama Tanah Perempuan terbitan pertama tidak memiliki unsur dramatis Arishotelian yang padu. Buku ini memiliki susunan adegan yang terlalu filmis yang akan sangat sulit untuk dijadikan sebuah pertunjukan di panggung. Akhirnya dengan desakan saya dan Pak Edi (salah satu pembina Bengkel Sastra) yang memang menginginkan naskah ini mendapat penggarapan yang bagus HTRpun rela membongkar lagi naskahnya dan menjadikannya Aristhotelian.

Naskah diperbarui, latihanpun jadi padu, semua pemain memberikan usaha terbaiknya untuk mementaskan naskah. Jumlah pemain yang tadinya hanya dua puluhan, kini meningkat menjadi sekitar 76 orang! Dan ke-76 orang ini main dengan bagus di Jakarta (Kampus dan GKJ), Bandung, dan tentu saja Aceh! Saat itu kami berhasil membuat drama Tragedi yang benar-benar menggilas perasaan, banyak dari penonton yang menangis yang baru saya tahu kemarin (9 Oktober 2013), ketika salah satu penonton yang pernah menonton Tanah Perempuan mendatangi saya dan mengkritik pertunjukan saya. Kirakira begini bunyinya “Pertunjukan lo yang ini nggak sebagus Tanah Perempuan, di Tanah Perempuan gua hampir nangis, dan banyak gua liat orang di sekeliling gua yang nangis.”

Buku drama Tanah Perempuan jelas mengubah hidup saya, jalan saya di kesenian dan kesusastraan menjadi terang. Saya jadi lebih kritis dan lebih bisa memberikan empati terhadap karya. Bahkan dari Tanah Perempuan juga saya belajar apa itu gerakan feminisme profetik, belajar mengenai sejarah Aceh, dan pahlawan-pahlawan perempuan Aceh, yang sebelum membaca buku ini nama mereka tidak pernah saya sentuh untuk kajian lebih mendalam.

Seribu tabik tak cukup rasanya saya ucapkan atas keberhasilan HTR mengubah drama tragedi yang filmis ini menjadi sebuah sebuah drama Aristothelian yang padu. Dan dari HTR juga saya belajar bagaimana menulis yang baik. Buku Tanah Perempuan tidak hanya membuka mata saya untuk melihat dunia, namun juga memberikan saya dunia seutuhnya! Oh iya saya juga menyutradarai Okki Setiana Dewi di pertunjukan ini, dia berperan sebagai Pocut Meurah Intan.

Pertunjukan Tanah Perempuan di Gedung Kesenian Jakarta

Pertunjukan Tanah Perempuan di Gedung Kesenian Jakarta

18952_1237777597810_7027878_n

18952_1237777757814_4269266_n

18952_1237780237876_5443939_n

18952_1237784837991_597472_n

18952_1237787798065_1916416_n

18952_1237787918068_5605031_n

Iklan

Tentang produktplazierung

postdramatic follow my IG @produktplazierung
Pos ini dipublikasikan di bengsas, cerita, curhat, sastra dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s