Hutan dan Yang Lain

SINOPSIS
Leica seorang gadis yang seumur hidupnya tinggal di desa di tepi hutan, berteman dangan alam dan belajar giat atas didikan orang tuanya. Sementara Farel adalah pemuda Kota yang ingin memeratakan kesejahteraan di seluruh negeri. Dua Individu ini kemudian bertemu dan saling jatuh cinta diantara konflik pembangunan, kemajuan jaman, serta kecurangan-kecurangan bisnis.
Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Teater | Tag , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

#FilmMingguIni Dalam dan Santai.

Sebetulnya saya menulis ini sebagai sebuah reksi praktis atas kebosanan yang melanda saya, Down-nya YouTube hari ini (17/10/2018) membuat saya berfikir dan bertanya “Apa yang terjadi bagi orang yang menggantungkan hidupnya pada YouTube?” Kemudian saya memutuskan untuk kembali menulis, setelah sebelumnya memandangi kebosanan di depan laptop yang menyajikan berbagai Netflix dengan segala tontonannya.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di film | Tag , , , | Meninggalkan komentar

10 Kelompok Teater Jakarta Wajib Tonton

Mencari tontonan bukanlah hal yang sulit di Jakarta, berbagai kemalangan, kejadian unik di jalan-jalan, pertokoan, mall-mall, wahana wisata, dan berbagai situs-situs menarik dapat menjadi tontonan. Namun tak semuanya membuat kita berfikir, terhibur, menambah pengetahuan dan–setidaknya berkelas.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Teater | Tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Ina Lewo yang Mencari Bahasa

Seringkali keterasingan menjelma menjadi rumah yang nyaman, menjadi jarak yang kemudian menimbulkan kerinduan. Namun seringkali kita menghindari keterasingan karena selalu mencoba untuk ada, untuk terlihat, didengarkan, atau mencoba menjadi satu dengan yang lain, dan meninggalkan siapa kita sebenarnya.

Nara

© DKJ Eva Tobing

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Teater | Tag , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Ruang Gelisah dan Teritori Data Teater Ghanta

Riuh dan gempita Pekan Teater Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tampaknya tidak bergerak dari kawasan Cikini, penonton-penonton yang menunggu tampaknya tidak mencari pertunjukan melainkan sebuah eksepsi untuk mengupayakan pola pikir sendiri, saya menghela nafas di depan “Wall of Fameyang seolah-olah hadir sebagai bumbu pelengkap, dibingkai oleh sampah nasi kotak bekas santap dari diskusi-diskusi sebelumnya. Membantin; ah seniman, kemudian saya melangkah dengan semangat meninggalkan tumpukan sampah untuk menyaksikan Side B: 47:17 Speech, Noise, and Effect (9/10/2018) dari Teater Ghanta.

47
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Teater | Tag , , , , , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar